• March 3, 2024

Serba-Serbi Disfungsi Ereksi yang Harus Diketahui dari Gejala-Pencegahannya

Dalam menangani masalah disfungsi ereksi dan gangguan kesuburan pria, lulusan Hannover Medizinische Hochschule Jerman ini menjelaskan jika RigiScan® menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan diagnostik awal. RigiScan® merupakan alat diagnostik yang digunakan untuk menilai kualitas ereksi pria pada malam hari (ereksi nokturnal).

Umumnya pria yang sehat mengalami sekitar 3 hingga 6 ereksi setiap malam. Karena penis adalah salah satu bagian dari tubuh pria yang memiliki kulit, tetapi tidak memiliki otot di bawah kulitnya, ereksi pada malam hari adalah metode tubuh untuk menjaga jaringan di dalam penis tetap sehat. Dengan kata lain, ereksi pada malam hari adalah cara tubuh “melatih” penis sehingga penis cukup sehat untuk melakukan aktivitas seksual.

RigiScan® digunakan untuk mengukur frekuensi, kualitas, dan durasi ereksi malam hari. Alat ini dapat membantu dalam membedakan antara disfungsi ereksi organik dan psikogenik. Hasil diagnostik juga dapat memberikan informasi dan membantu dokter menentukan cara terbaik untuk memulai tata laksana disfungsi ereksi.

“Dalam hal disfungsi ereksi, RigiScan bersifat sebagai alat pendukung diagnostik. Artinya, hasil dari pemeriksaan menggunakan RigiScan harus dipertimbangkan bersamaan dengan gejala dan riwayat kesehatan pasien untuk menentukan diagnosis dan tata laksana yang tepat,” sebut Prof. Ponco yang juga merupakan salah satu anggota tim transplantasi ginjal di RS Siloam ASRI.

Terapi ESWT untuk Pengobatan Disfungsi Ereksi

Setelah melakukan pemeriksaan menggunakan RigiScan®, dokter ahli urologi dapat menentukan tatalaksana yang tepat berdasarkan kondisi pasien. Prof. Ponco menyebutkan jika ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy) dapat menjadi salah satu pilihan terapi dalam mengatasi masalah disfungsi ereksi dan kesuburan pada pria dengan tingkat keberhasilan terapi ESWT kepada pasien mencapai 60-70%.

Cara kerja ESWT adalah dengan merangsang pertumbuhan sel dan pembuluh darah kapiler baru pada penis yang telah mengalami kerusakan atau tersumbat. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan aliran darah ke penis dan memperbaiki fungsi ereksi.

Pada terapi ESWT dilakukan pengaplikasikan gelombang kejut dengan intensitas rendah pada penis. “Biasanya, pasien tidak memerlukan anestesi, namun beberapa pasien mungkin mengalami sensasi kesemutan di area yang diterapi. Terapi ESWT untuk disfungsi ereksi biasanya membutuhkan beberapa sesi perawatan dengan jeda waktu beberapa minggu antara setiap sesi,” ujar peraih European Society for Sexual Medicine Grant for Medical Research tersebut. 

Terapi ESWT juga dapat digunakan untuk mengatasi penyakit peyronie (kelainan kurvatura penis) dan infeksi prostat (prostatitis).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *