• March 1, 2024

Belajar dari Pengalaman, Sarwendah Berbagi Tips Berkomunikasi Efektif Hindari AMR di ICU Agar Tidak Panik

Dalam acara ini, Sarwendah menyampaikan 4 (empat) tips berkomunikasi yang efektif untukmenghindari AMR di ICU yang dapat dilakukan pasien atau keluarganya ketika berdiskusi dengantenaga kesehatan

1. Buka percakapan

setelah tindakan darurat usaiKetika pasien baru masuk ke ICU, prioritas tenaga kesehatan adalah menstabilkan kondisi danmenyelamatkan nyawa pasien. Oleh karena itu, bisa terkesan tenaga kesehatan belummenyediakan waktu untuk melayani keluarga pasien untuk berdiskusi.

Pada kondisi ini,sebaiknya keluarga pasien memberikan waktu dan ruang bagi tenaga kesehatan untukbekerja. Setelah tindakan darurat selesai dan kondisi pasien cenderung stabil, keluarga pasien bisamulai bertanya kepada tenaga kesehatan terkait tentang kondisi terkini dan semua tindakanyang baru saja dilakukan terhadap pasien. Keluarga juga bisa bertanya tentang pengobatanyang akan diberikan selanjutnya, terutama pemberian antibiotik empirik pada awal masaperawatan.  

2. Pahami bahwa menerima informasi adalah hak pasien 

Sebagaimana diatur pada Permenkes RI 290/2008, pasien berhak untuk menerima informasiyang lengkap mengenai rekomendasi medis dari tenaga kesehatan. Di sisi lain, tenagakesehatan pun memiliki kewajiban untuk memberikan informasi dan melakukan edukasikepada pasien.

Maka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara detail seputar beberapatopik, misalnya penggunaan antibiotik, perkembangan kondisi pasien, dan risiko terjadinyaresistansi AMR pada pasien adalah hal yang normal, bahkan positif.

3. Memperhatikan etika bertanya 

Bertanyalah pada tenaga kesehatan dengan sabar, agar penjelasan dapat diberikan secaralengkap dan dipahami dengan baik. Tenaga kesehatan terlihat begitu sibuk sehinggasusah mencari kesempatan untuk bertanya tentang perawatan pasien di ICU, maka keluargapasien bisa membuat perjanjian tentang waktu yang tepat untuk bertanya dan berdiskusitentang kondisi terkini pasien dengan tenaga kesehatan terkait. 

Dengan begitu, pihak keluarga pasien pun bisa memperkirakan waktu dan menyiapkanpertanyaan yang lebih matang pada saat diskusi berlangsung. Baik keluarga pasien maupuntenaga kesehatan tentu menginginkan yang terbaik untuk pasien, jadi tidak ada salahnyasaling menjaga etika dalam berinteraksi.

4. Usahakan agar terlibat aktif dalam pengambilan keputusan medis 

Setelah tenaga kesehatan memberikan rekomendasi medis, pihak keluarga pasien bisabertanya lebih jauh atau meminta penjelasan atas hal-hal yang kurang dipahami. Pihak keluarga pasien perlu memahami secara utuh tentang diagnosis, tindakan medis, komplikasi,risiko, dan pilihan-pilihan tindakan, sebelum memberikan persetujuan. Terutama terkaitpemberian antibiotik, pihak pasien bisa bertanya lebih jauh mengenai alasan, jenis, dosis,lama penggunaan, manfaat, dan risiko terkait penggunaan antibiotik tersebut di ICU.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *